Tahun Baru

By Ray Lynx - January 02, 2018

Source: Personal Collections
Suara letusan kembang api terdengar nyaring di seantero lanskap. Cahaya warna-warni bertaburan di langit, membentuk bunga-bunga bulat yang hilang dalam sekejap. Semua orang terlihat bersorak-sorai dengan gembira, menyambut tahun yang baru saja dimulai.

Aku termenung di atas sebuah atap bangunan tua yang tak lagi berpenghuni. Suasana di luar sana begitu ramai, tapi aku merasakan keheningan yang tak terkira. Bahkan aku tak lagi bisa mendengar suara letusan yang memenuhi langit malam ini. Aku hanya bisa mendengar suara napas dan detak jantungku sendiri. Suara yang menjadi tanda bahwa aku masih hidup. 

Aku langsung tenggelam di dalam pikiranku sendiri. Di dalam sini, aku merasa sesak karena ribuan pertanyaan memaksa masuk. Kenapa aku hidup? Kenapa aku terlahir di dunia ini? Untuk apa?  Apakah hidupku memiliki arti? 

Meski sudah berjuta kali aku bertanya, sampai saat ini aku tidak pernah tahu jawabannya. Yang aku tahu, aku hanyalah satu dari miliaran manusia lain yang hidup di bumi. Aku hanyalah satu dari seluruh makhluk hidup yang ada di jagad raya. Betapa remehnya, betapa tidak signifikannya aku di hadapan dunia ini. Betapa aku merasa begitu kecil, hingga tak ada satupun mata yang bisa melihat keberadaanku. Betapa aku merasa bahwa jika aku menghilang, dunia bahkan tak akan berkedip sekalipun. 

Mungkin itu sebabnya saat ini aku duduk sendirian di atas bangunan tua tak berpenghuni. Mungkin itu sebabnya saat ini aku tak bisa mendengar letusan meriah kembang api yang memenuhi udara. Mungkin itu sebabnya saat ini tak ada yang mendengar teriakanku meminta tolong. Mungkin itu sebabnya saat ini tak ada yang menyadari air mataku yang bergulir tanpa henti. Mungkin itu sebabnya saat ini aku tak lagi merasa 'hidup'.

Entah sudah berapa lama waktu telah berlalu. Teriakan dan tangisanku sudah usai. Kini aku terlentang menatap langit penuh cahaya warna-warni. Kupejamkan mataku perlahan dan kubiarkan kegelapan menyelimutiku.

Tahun yang baru telah tiba, tapi aku masih terjebak di kurungan yang sama. Kehabisan tenaga karena selalu berusaha keluar, namun selalu gagal. Dari dalam kurungan ini, tak ada yang bisa melihatku.  Tak ada yang bisa mendengar suaraku. Tak ada yang bisa merasakan keberadaanku. Aku tahu. 

Aku tahu.

Tapi meski aku sudah tahu, setiap tahun, pada hari yang sama dan jam yang sama, aku selalu mendatangi atap bangunan tua ini, lalu berteriak dan menangis. Meminta tolong pada mereka yang bahkan tidak mengetahui keberadaanku. Selalu. Tanpa pernah melewatkannya sekalipun. 

Tahun yang baru telah tiba. Setahun lagi, aku akan kembali ke tempat ini. Mengulang siklus yang tak terhenti. Berharap waktu akan menyelamatkanku suatu hari nanti.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments