![]() |
| Source: Pinterest |
Dua potong kue dan dua cangkir teh yang sudah dingin tergeletak di depan kita tanpa tersentuh. Saat ini seharusnya aku sedang menikmati sore bersamamu seperti biasanya--meminum teh dan memakan sepotong kue sambil berbincang-bincang. Tapi kali ini berbeda. Sejak datang, kamu terlihat aneh dan tidak banyak bicara. Matamu selalu menghindar dari tatapan mataku. Dan kini, kita berdua terdiam tanpa ada yang berusaha memecah keheningan.
Kamu menghela napas panjang sambil menunduk--menatap ke satu titik. Aku memandangmu dengan gelisah, berharap kamu mendongak dan menatap mataku seperti biasanya. Keanehanmu membuatku gusar. Aku takut kamu akan mengatakan sesuatu yang bisa merusak keseharianku bersamamu. Aku tidak mau hari-hariku berubah. Sangat tidak mau.
Suara jam dinding terdengar begitu keras di tengah keheningan. Aku mengepalkan tanganku erat-erat, menanti sepatah kata yang mungkin keluar dari mulutmu dengan cemas. Napasku terasa berat. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Hei...” katamu memecah keheningan. “menurutmu, bagaimana kalau kita berhenti melakukan ini semua?”
Jantungku terhenti sesaat ketika mendengar apa yang kamu katakan. Firasatku benar. Kamu mengatakan sesuatu yang akan menghancurkan hubungan yang hanya disangga oleh saput tipis ini. Bertahun-tahun aku menjaganya, dan hanya dengan satu kalimat darimu, semua itu rusak.
“Apa... maksudmu?” tanyaku.
Sejujurnya aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan, tapi aku menolak untuk menyadarinya dan berpura-pura tidak tahu. Aku terus berusaha untuk mengabaikannya, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun.
“Lebih baik kuenya kita makan. Tehnya juga sudah dingin, biar aku hangatkan dulu.” Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan. Dalam hati aku berharap kamu mengikuti alur pembicaraanku dan melupakan pembicaraan tadi.
Tiba-tiba kamu menggenggam tanganku, berusaha menyeretku kembali ke dunia nyata. Aku mematung. Tenggorokanku terasa begitu sakit--seperti ada batu besar yang menyangkut di dalamnya. Kepalaku terasa pusing dan dadaku begitu sesak. Bulir-bulir air mata mulai meluncur satu per satu dari mataku tanpa bisa kukendalikan. Kamu lalu memegang kedua pipiku pelan dan membuatku menatap kedua bola matamu, meskipun aku sangat tidak ingin melihatnya saat ini.
“Aku menyayangimu,” katamu. “lebih dari yang kamu bayangkan.”
“Pembohong! Katamu kamu akan bersamaku sampai kapan pun! Katamu kamu tidak akan pergi seperti orang-orang di hidupku! Aku bisa mati tanpamu!” seruku sambil terisak.
Entah sudah berapa lama kamu bersabar dengan semua hal yang aku katakan tentangmu. Aku selalu mencemooh dan mengejekmu, mengatakan kamu lemah dan tolol karena masih mau bersamaku. Seharusnya aku siap akan datangnya hari ini. Seharusnya aku tidak berusaha mencegahmu pergi. Seharusnya kamu membenciku dengan sepenuh hati. Aku berharap kamu menyemprotku dengan kemarahanmu, tapi kedua bola mata yang menatapku itu terlihat begitu teduh dan hangat. Kamu tersenyum. Bukan senyuman yang sudah berjuta kali kamu perlihatkan padaku. Senyuman kali ini mampu menyampaikan beribu kata dalam waktu sedetik saja. Aku mengerti. Sangat mengerti.
“Ini bukan perpisahan,” ujarmu pelan. “ini baru permulaan. Kamu harus tahu, aku pergi bukan berarti aku tidak akan ada lagi di hidupmu. Anggap saja aku hanya akan tertidur panjang.”
Aku terisak tanpa bisa membalas perkataanmu. Dengan cepat aku menenggelamkan diriku dalam pelukanmu. Ini yang terakhir. Aku berjanji.
“Ketika kamu membuka mata setelah tidur, kamu pasti akan menyadari bahwa aku pergi demi kebaikanmu. Kamu yang saat ini sangat kuat. Kamu sudah tidak membutuhkan sokonganku. Kamu mampu berdiri sendiri.” Katamu dengan lembut.
Kamu melepaskan pelukanmu sambil tersenyum lalu mengusap kepalaku pelan--sebelum akhirnya menghilang di balik pintu dan meninggalkanku yang masih terisak.
*
Aku membuka mataku dan melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ternyata aku tertidur selama dua belas jam lebih. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil kantung plastik kecil berwarna putih dari laci mejaku. Aku mengeluarkan semua isinya dan menatap bungkusan-bungkusan tablet dan kapsul yang tersebar di atas meja.
“Kamu hilang karena mereka semua.” Ujarku pelan. Air mata mulai menetes ke pipiku. Aku yang selama ini bergantung padamu kini harus berdiri sendiri. Katamu semalam, aku yang sekarang sudah kuat. Tapi kenapa air mata masih meluncur dengan deras dari mataku?
“Kamu memang pembohong.” Kataku lagi.
Dilema menyelimuti hatiku. Haruskah aku berusaha kembali ke dunia nyata dan menerima kepergianmu? Atau meninggalkannya dan membuatmu kembali ada di hidupku? Aku sudah tahu pasti jawabannya, tapi hatiku masih ragu. Menurutku aku masih sangat membutuhkanmu, tapi kamu memutuskan untuk pergi. Aku yakin pasti mereka yang menyuruhmu pergi karena mereka sudah mulai membuat otakku bekerja sedikit lebih normal. Haruskah aku meninggalkan mereka? Apakah ini yang benar-benar aku inginkan? Dan apakah ini yang benar-benar kamu inginkan?
Tiba-tiba suara ketukan pintu membangunkanku dari lamunan. Dari balik pintu muncul sosok yang sudah lama kukenal.
“Bagaimana keadaanmu, sudah merasa lebih baik?” tanyanya.
Aku tersenyum. Air mataku masih belum bisa berhenti mengalir. Orang itu menghampiriku dan mengusap kepalaku dengan lembut.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri, pelan-pelan saja. Mengubah pola hidup memang tidak mudah, kamu tidak perlu terburu-buru.” Ucapnya.
“Semalam dia muncul. Dia memutuskan untuk pergi. Aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku tidak tahu apakah hal ini hal yang baik atau buruk. Hatiku tidak bisa memutuskan.” Ujarku.
“Kalau begitu, biar aku yang menggantikannya. Aku akan melakukan hal yang biasa kau lakukan dengannya. Bagaimana?”
Aku hanya tersenyum sambil menatapnya. Tidak bisa. Dia tidak bisa menggantikan kamu. Aku tahu itu. Perlahan aku menggelengkan kepalaku.
“Tidak perlu.” Jawabku.
Orang itu tersenyum lalu memelukku pelan. Kehangatannya menyebar ke seluruh tubuhku. Tiba-tiba aku merasa seperti melihatmu tersenyum. Aku mengerti.
Air mata yang sempat terhenti kini kembali mengalir, terjatuh di pipi yang berjuta kali kamu usap.
Kali ini, biarkan aku yang mengucapkan salam perpisahan untukmu.
Selamat tinggal, kamu.


0 comments